Kristus Disandera Pendeta

By Charlie Hartono - 6:47:00 pm



"Busyet, musim dingin ini sungguh menyiksa. Terus-menerus dingin tanpa akhir. Badan menggigil, perut kelaparan. Kemiskinan ini juga sungguh menyiksa. Dari dulu miskin. Terus-menerus miskin tanpa akhir!" Demikian teriak si Kusta dengan pilu. Si Wanita Penghibur mendengarkan keluhan itu dengan iba. Si Pemulung menunduk prihatin.

Di latar belakang panggung yang remang itu tampak menjulang tinggi lampu hotel-hotel megah di kota Seoul.Lalu tiba-tiba si Kusta berteriak geram, "Apa ini? Ah, patung Kristus! Lihat, patung Kristus bermahkota emas! Apa gunanya patung ini untuk kita?" Dengan sinis ia hendak membuang kembali patung yang baru ditemukannya di antara tumpukan sampah itu.


Pada saat itu terdengarlah suara Kristus yang memelas, namun penuh wibawa, "Tolonglah Aku. Cabutlah mahkota emas ini yang dipasang oleh gereja sejak gereja mulai melembaga 2.000 tahun lalu. Mahkota-Ku yang betul bukan terbuat dari logam mulia, melainkan dari duri hina. Ah, senangnya hati-Ku bertemu kamu. Aku datang ke dunia untuk kamu. Aku jadi hidup kalau Aku sehati dengan kamu pada kedalaman penderitaanmu. Namun, sudah lama Aku disandera oleh pendeta. Bebaskanlah Aku supaya Aku bisa berfungsi sebagai Juruselamat bagi orang-orang yang menderita seperti kamu!"


Si Kusta, si Wanita Penghibur, dan si Pemulung terheran-heran. Mereka tidak percaya pada telinga dan mata mereka sendiri. Mereka disapa Kristus. Mereka diminta tolong oleh Kristus. Mimpi ataukah betul-betul terjadi?


Belum lagi ketiga orang itu sempat mencabut mahkota emas dari kepala Kristus, tiba-tiba datanglah beberapa orang dengan sikap berang dari kanan dan kiri panggung. Mereka berteriak, "Ini dia pencurinya. Sekarang baiklah kita pahami konteks sandiwara ini.


Adegan babak akhir ini dipentaskan di kampus Sekolah Teologi Presbiterian di Seoul. Hampir tiap bulan ada pementasan kelompok teater kampus. Ragamnya bervariasi, dari absurd, satire, realis atau drama lainnya. Jenisnya klasik, semi-klasik, atau kontemporer. Malam itu gedung kapek yang memuat 800 kursi penuh sesak. Maklumlah, drama yang dipentaskan adalah gubahan dari buku karangan Kim Chi Ha berjudul The Gold-Crowned Jesus and Other Writings.


Kim Chi Ha bersama Kim Jong Bok adalah penulis terkemuka di Korea. Kedua teolog itu pernah dipenjara karena mengkritik pemerintah. Kedua teolog itu mengembangkan Teologi Minjung. Minjung berarti rakyat jelata atau orang banyak atau orang biasa. Dalam hal ini, kaum awam atau warga gereja biasa. Umat Kristen di Korea berjumlah hampir 30% dari penduduk dan banyak warga gereja adalah buruh pabrik. Dalam kuliahnya, Kim Chi Ha berkata," The minjung of the church are the oppressed, while the oppressers are the administration, the transnational firms and the clergy." Artinya, "kaum awam adalah pihak tertindas, dan penindasnya adalah pemerintah, perusahaan raksasa, dan pendeta." Apakah maksud dia dengan ucapannya yang tajam itu?


Baiklah kita lihat siapa yang dimaksud dengan si Kusta, si Wanita Penghibur, dan si Pemulung dalam drama ini.


Si Kusta mewakili anggota-anggota gereja yang kehadirannya dirasa mengotorkan. Mereka adalah para penyandang cacat tubuh, cacat mental, penyandang AIDS, para gay dan lesbian, atau yang lainnya.


Si Wanita Penghibur mewakili anggota-anggota gereja yang dianggap bukan orang baik-baik. Mereka dicap bermasalah. Mereka pernah bercerai atau keluarganya kurang beres. Mereka dianggap bermoral rendah. Mereka dinilai tidak berhak mendapatkan pemberkatan nikah di gereja dan tidak layak duduk pada meja Perjamuan Kudus.


Si Pemulung mewakili anggota-anggota gereja yang berpenghasilan sedikit. Mereka pegawai rendah, buruh, atau pedagang kecil. Mereka tidak bisa memberi sumbangan ke gereja, malah sebaliknya mereka yang harus disumbang oleh gereja.


Si Kusta, si Wanita Penghibur dan si Pemulung adalah minjung atau umat awam. Mereka dipandang sebelah mata. Mereka terpinggirkan. Mereka minoritas. Memang mereka mendapat tempat duduk di gereja, namun mereka dianggap kurang penting. Mereka bukan fokus kepedulian gereja sebab gereja lebih peduli pada liturgi yang agung, ajaran yang alkitabiah, peraturan yang baku, upacara penahbisan pendeta yang meriah, atau KKR yang bermukjizat.


Padahal Yesus justru peduli pada si Kusta, si Wanita Penghibur, dan si Pemulung. Yesus sendiri lahir dalam keluarga minjung, dan sepanjang hidup-Nya Ia menyamakan diri dengan para minjung. Ia bukan peduli pada para pemuka agama yang disebut "orang benar", melainkan pada rakyat jelata yang disebut "orang berdosa". SabdaNya,"Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa" (Matius 9:13). Lalu Yesus "menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka" (Lukas 15:2)




Kim Chi Ha mengkritik pendeta yang memamerkan diri sebagai pembela si Kusta, si Wanita Penghibur dan si Pemulung, padahal sebenarnya pendeta cuma memperalat mereka sebagai pencitraan gerakan kemanusiaan gereja. Oleh sebab itulah, ia menyebut pendeta menindas kaum jelata. Pendeta memang memberi bantuan kemanusiaan, namun bantuan itu membuat kaum awam jelata jadi bergantung, bukan berdaya. Dalam kuliahnya yang lain Kim berkata, "The clergy defuse the minjung's bitter resentment and indignation with sentimental charity. The people become emasculated by mercy." Artinya, "Pendeta meninabobokan kejengkelan dan jeritan kaum awam jelata dengan bantuan kemanusiaan. Jadilah mereka terbius dengan sumbangan"


Dalam adegan sandiwara ini Kristus merasa bisa berfungsi sebagai Juruselamat bukan jika hidup dalam kemegahan gereja, melainkan jika hidup dalam kesahajaan kaum awam. Akan tetapi, Kristus cuma dijadikan pemanis mulut khotbah, aksesori jubah pendeta, ornamen gedung gereja, dan hiasan seremonia liturgi.


Oleh sebab itu, Kristus minta tolong untuk dibebaskan. Simak soteriologi yang jungkir balik. Kristus Sang Pembebas ternyata minta dibebaskan. Minta kepada siapa? Kepada si Kusta, si Wanita Penghibur dan si Pemulung, yaitu orang-orang yang dicap "pemungut cukai, peminum, pezinah, penjudi, dan orang-orang berdosa". Minta dibebaskan dari belenggu apa? Dari belenggu yang dipasang oleh pendeta.


Akan tetapi, belum lagi si Kusta, si Wanita Penghibur dan si Pemulung membebaskan Kristus, tiba-tiba datanglah tiga orang berbaju perlente, yaitu si Politikus, si Pengusaha dan si Pendeta.


Si Politikus langsung berhasil menyita patung Kristus itu. Ia segera bersorak kegirangan,"Haleluya,sekarang Kristus menjadi milik kami. Kamilah yang paling berhak menguasai Kristus sebab kami adalah politisi, pemerintah, dan aparat negara yang berkuasa."


Akan tetapi, secepat kilat si Pengusaha merebut salib itu dan berteriak, "Puji Tuhan, sekarang Kristus menjadi milik kami. Kamilah yang paling memerlukan Kristus supaya kami sukses menipu dan memenangkan tender. Persepuluhan dari hasil kelicikan kami pasti dipersembahkan kepada Tuhan!"


Pada saat itu dari belakang menyelinaplah si Pendeta dan merenggut salib Kristus bermahkota emas itu. Ia langsung sujud di tanah dan berdoa, "Sungguh ajaib mukjizat-Mu Allah, akhirnya Kristus kembali jadi inventaris gereja!"


Lalu si Pendeta, si Pengusaha dan si Politikus raib dari panggung. Langsung lampu panggung redup. Si Kusta, si Wanita Penghibur, dan si Pemulung terhempas lunglai lemas. Sedu-sedan isak tangis mereka.


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------



Tulisan di atas adalah tulisan Bapak Andar Ismail dengan judul "Kristus Disandera Pendeta" (hal. 125-129) seri Selamat Sehati - 33 Renungan tentang Sehati Sepikir (2013), terbitan BPK Gunung Mulia.

Image sources:
http://ecx.images-amazon.com/images/I/51JknMRvIYL._SY300_.jpg
http://lilinkecil.com/popup_image.php?pID=2851&osCsid=bdaaa056e921734358e0f88a5e7c35e2
http://jesusistheword.org/wp-content/uploads/2012/05/crown-of-thorns-and-gold-crop.jpg

  • Share:

You Might Also Like

0 comments